http://kimkarawang.id/

FK-KIM KARAWANG, Kecamatan Karawang Barat – Sastrawan Nasional, Putu Wijaya hadir dalam acara Penganugrahan Festival Teater Karawang (FTK) 2019 di Swiss Bell Inn Hotel, Minggu (22/9/2019) kemarin. Dalam kesempatan itu, Eyang Putu Wijaya, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan orasi budaya di depan ratusan peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum juga dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan beserta jajarannya.

Lelaki berusia 74 tahun duduk dikursi roda, datang dari Jakarta sejak Sabtu siang dan menyempatkan diri berkeliling ke tempat-tempat sejarah Rumah penculikan proklamator dan Komplek Percandian Batujaya. Mengatakan, kesenian itu tempat yang sangat memerlukan perhatian, karena ada banyak generasi muda yang terlibat disana untuk menumpahkan segala daya pikiran, imajinasi, kreativitas dan tenaganya. Karena semangat dan kepeduliannya terhadap budaya tahun lalu dianugrahi penghargaan oleh Presiden Jokowi.

“Kepedulian kepada kesenian khususnya teater dari jajaran pemerintahan itu sangat penting. Penting sekali. Saya pernah meminta salah satu mantan Gubernur untuk sudi datang melihat proses latihan dan pementasan teater di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Beliaupun mewujudkan permintaan saya. Betapa bahagianya saya dan rekan-rekan teater lainnya ada pejabat yang mau menengok proses kita,” ungkap Putu dengan suara paraunya.

Putu juga menekankan generasi muda untuk serius menggeluti teater, karena pembelajaran teater mengajarkan kepada manusia untuk peduli terhadap lingkungan sosial dan memiliki hati yang penuh belas kasih.

“Mengapa kita harus belajar teater? Sedangkan teater itu berpura-pura? Teater tidak pernah mengajarkan untuk berpura-pura. Teater bukan mencopy-paste kenyataan, namun merefleksikan sesuatu yang terjadi secara nyata. Jangan pernah merasa sia-sia karena teater telah mengajarkan kita terjun ke lingkungan sosial, berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungan sekitar,” kata Putu.

“Anak teater itu teguh pada pendirian. Anak teater mampu memahami berbagai karakter seseorang. Jangan pernah berhenti berteater, yakinlah teater tidak pernah mengajarkan kita kebohongan, tidak pernah mengajarkan kita untuk berpura-pura dan tidak pernah menjadikan kita bodoh,” ucapnya berapi-api.

“Membangun pertunjukan teater ibaratnya kita mengundang orang-orang untuk makan dirumah kita. Tentunya kita akan menyiapkan segala sesuatu yang terbaik dari mulai citarasa menu hingga penyajiannya dengan harapan orang yang menikmati hidangan makanan kita terkesan dan puas mendapatkan pengalaman berharga,” tambahnya.

Putu sangat mengagumi potensi budaya yang dimiliki Karawang, menurutnya siapapun akan mengenal Karawang dalam pelajaran Bahasa dan Sastra lewat Puisi Karawang – Bekasi Karya Chairil Anwar begitupun Putu Wijaya pernah membacakan puisi itu saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

“Karawang dikenal dengan tonggak sejarah Kemerdekaan peristiwa penculikan bapak Proklamator di Rengasdengklok dan komplek percandian Batujaya. Adalah anugrah sang Pencipta yang tiada terkira untuk Karawang ini. Tinggal bagaimana kita para pelaku teater, seniman dan masyarakat Karawang menggali potensi ini, kemudian memperkenalkan ke dunia luar dan mengajak berkunjung berwisata ke Karawang,” pungkasnya.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *